Saham GOTO di Bawah Rp50: Penyebab dan Risikonya

Logo GoTo putih dengan slogan Go Together, Go Far di atas latar hijau dan hitam
Logo dan slogan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk yang sahamnya diperdagangkan dengan kode GOTO di BEI. Foto: dok. GoTo (press kit).

kolabora.id – Kenapa saham GOTO kini hanya Rp28 per lembar? Sebab, Bursa Efek Indonesia (BEI) menurunkan harga minimum saham dari Rp50 menjadi Rp1 mulai Senin, 28 September 2026. Akibatnya, menurut data Ringkasan Saham BEI, GOTO berakhir di Rp28 pada Rabu, 14 Oktober 2026.

Sebelumnya, GOTO tertahan di Rp50 sejak Mei 2026, sehingga aturan baru langsung membuka tekanan jual yang lama terpendam. Selain itu, pemegang saham GoTo baru saja menggelar RUPSLB pada hari yang sama, 14 Oktober 2026.

Bacaan Lainnya

Aturan Baru BEI Berlaku 28 September

Dalam siaran pers BEI tanggal 21 September 2026, bursa merujuk Keputusan Direksi Nomor Kep-00136/BEI/09-2026 tentang perubahan Peraturan II-A. Menurut BEI, tujuannya memperbaiki price discovery dan mendorong likuiditas saham yang lama tertahan di Rp50.

Namun, BEI tetap mempertahankan batas auto rejection bawah (ARB) 15% untuk saham di atas Rp10 sampai 31 Desember 2026. Sementara itu, saham berharga Rp1–Rp10 hanya boleh naik atau turun Rp1 per hari.

Empat Hari ARB Beruntun

GOTO langsung menyentuh batas bawah harian selama empat hari bursa berturut-turut. Data Ringkasan Saham BEI mencatat harga penutupan turun dari Rp50 menjadi Rp28 pada 1 Oktober, atau anjlok 44%.

Grafik garis harga penutupan saham GOTO turun dari Rp50 ke Rp28 periode 25 September hingga 14 Oktober 2026
Harga penutupan GOTO turun empat hari beruntun sejak 28 September, lalu bergerak di Rp27–Rp31. Grafik: Kolabora, data Ringkasan Saham BEI.
TanggalPenutupanPerubahanVolume
25 Sep 2026Rp500%4,41 juta saham
28 Sep 2026Rp43-14,0%132,94 juta saham
29 Sep 2026Rp37-14,0%186,22 juta saham
30 Sep 2026Rp32-13,5%857,22 juta saham
1 Okt 2026Rp28-12,5%7,73 miliar saham
2 Okt 2026Rp30+7,1%97,54 miliar saham
Sumber: Ringkasan Saham BEI; persentase hitungan Kolabora.

Lalu, pada Jumat, 2 Oktober, nilai transaksi GOTO mencapai Rp2,69 triliun, padahal pada 25 September hanya sekitar Rp220 juta. Sejak itu, harga penutupan bergerak sempit di Rp27–Rp31, dan pada 14 Oktober GOTO berakhir di Rp28 dengan volume 9,37 miliar saham.

Penyebab Saham GOTO Turun di Bawah Rp50

Penjelasan paling lengkap datang dari GoTo lewat surat penjelasan volatilitas kepada BEI bertanggal 1 Oktober 2026. Menurut manajemen, penyebabnya teknis. Pertama, GOTO keluar dari FTSE Global Equity Index Series per 22 Juni 2026 karena tercatat di Papan Pengembangan. Kemudian, MSCI mengeluarkan GOTO dari MSCI Global Standard Indexes per 31 Agustus 2026.

Karena itu, dana pasif yang mengacu ke kedua indeks wajib menjual. Namun, perdagangan yang sepi di harga Rp50 membuat mereka tidak bisa keluar di pasar reguler. Begitu batas Rp1 berlaku, antrean jual itu akhirnya tereksekusi.

Grafik batang volume perdagangan harian saham GOTO 25 September hingga 14 Oktober 2026, tertinggi 97,54 miliar saham pada 2 Oktober
Volume GOTO melonjak ke 97,54 miliar saham pada 2 Oktober, setelah empat hari harga turun. Grafik: Kolabora, data Ringkasan Saham BEI.

Penjelasan ini masuk akal, sebab volume raksasa justru muncul setelah harga turun. Polanya lebih mirip pelepasan stok tertahan daripada kepanikan baru.

Hasil RUPSLB 14 Oktober 2026

Di tengah gejolak itu, menurut ringkasan risalah RUPSLB yang GoTo sampaikan ke BEI, rapat memutuskan dua hal.

  1. Pertama, pemegang saham menyetujui penarikan 32,19 miliar saham treasuri hasil buyback periode Juni 2024–Juni 2025 dengan 94,34% suara setuju. Setelah itu, jumlah saham dalam modal ditempatkan dan disetor GoTo menjadi 1.158.958.579.417 lembar.
  2. Kedua, rapat menyetujui pengunduran diri Catherine Hindra Sutjahyo dari kursi Wakil Direktur Utama.

Menurut surat GoTo kepada BEI tanggal 1 Oktober, perseroan juga masih memegang persetujuan buyback baru hingga Rp3,5 triliun untuk periode 19 Juni 2026–18 Juni 2027. Meski begitu, surat itu menegaskan pelaksanaannya bergantung pada keputusan manajemen dan kondisi pasar.

Kinerja Bisnis Versi Manajemen

Patung logo GoTo berwarna hijau di atas meja dengan latar tanaman dan dinding bata
Logo GoTo dalam materi resmi laporan kinerja kuartal II-2026 saat perseroan kembali mencetak laba bersih. Foto: dok. GoTo (press kit).

Di sisi lain, manajemen menilai harga saham saat ini tidak mencerminkan fundamental. Surat 1 Oktober yang sama mencatat laba bersih kuartal II 2026 sebesar Rp252 miliar, laba kedua berturut-turut secara kuartalan.

Menurut surat itu, pendapatan bersih kuartal II mencapai Rp5,7 triliun, dan adjusted EBITDA lebih dari Rp1 triliun. Manajemen juga mempertahankan panduan adjusted EBITDA setahun penuh sebesar Rp3,2–3,4 triliun.

Risikonya bagi Investor Ritel

Bagi Sobat Kolabora yang tergoda harga murah, ada tiga hal yang perlu dicermati sebelum masuk.

  • Gerak harga terasa besar. Sebagai contoh hitungan, di level Rp28, naik atau turun Rp1 saja sudah setara sekitar 3,6%. Harga nominal rendah juga belum tentu berarti valuasi murah.
  • Batas ARB melebar mulai 2027. Menurut tabel dalam siaran pers BEI, batas bawah harian saham Rp11–Rp200 naik dari 15% menjadi 35% pada 1 Januari 2027. Batas atasnya tetap 35%, jadi yang melebar adalah ruang penurunan harian.
  • Jangan pakai uang pinjaman. Hindari membeli saham dengan dana dari layanan paylater atau utang lain. Sebaiknya, batasi porsi GOTO sesuai profil risiko dan pantau keterbukaan informasi emiten di situs BEI.

Untuk sementara, arah saham GOTO tampaknya lebih bergantung pada sisa tekanan jual dana asing dan realisasi buyback ketimbang laporan laba. Laporan kuartal III 2026 nanti menjadi ujian berikutnya bagi klaim fundamental manajemen. Artikel ini bukan rekomendasi jual atau beli saham.

Tari Ismayah
Ditulis oleh

Tari Ismayah

Perempuan asli Sleman. Suka menulis, membaca, dan menggambar.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan