kolabora.id – Harga emas Antam belum melanjutkan kenaikan akhir pekan lalu. Angka resmi Rabu, 21 Oktober 2026, justru menunjukkan arah sebaliknya. Menurut laman Logam Mulia, harga emas Antam 1 gram turun Rp10.000 menjadi Rp2.554.000. Ini penurunan kedua berturut-turut setelah sempat naik pada 17 dan 19 Oktober.
Artinya, harga 1 gram sudah terkoreksi Rp20.000 dalam dua hari dari Rp2.574.000 pada 19 Oktober, menurut catatan harian Kontan. Selain itu, harga buyback ikut turun Rp10.000 menjadi Rp2.369.000 per gram, seperti laporan ANTARA pada Rabu pagi.
Naik Dua Kali, Lalu Turun Lagi
Sebenarnya, kesan “harga emas naik” bukan tanpa dasar. Menurut Kontan, harga 1 gram pada Sabtu, 17 Oktober, naik Rp7.000 menjadi Rp2.572.000. Kemudian, menurut catatan Kontan yang sama, harga bertahan sehari lalu naik tipis ke Rp2.574.000 pada Senin, 19 Oktober.
Namun, kenaikan itu terhapus cepat. Pada Selasa, 20 Oktober, harga turun Rp10.000 ke Rp2.564.000, lalu Rabu turun lagi dengan besaran yang sama. Akibatnya, harga hari ini menjadi yang terendah dalam rentang 14–21 Oktober.
Bagi pembaca yang membeli saat ramai kabar kenaikan, posisi mereka kini sedikit merugi di atas kertas. Misalnya, pembeli 1 gram pada 19 Oktober membayar harga dasar Rp20.000 lebih mahal daripada pembeli hari ini.

Tanggal Harga 1 gram Buyback 1 gram 17 Oktober 2026 Rp2.572.000 Rp2.387.000 18 Oktober 2026 Rp2.572.000 Rp2.387.000 20 Oktober 2026 Rp2.564.000 Rp2.379.000 21 Oktober 2026 Rp2.554.000 Rp2.369.000
Emas Dunia Melemah Tiga Hari
Pada saat yang sama, penurunan Antam sejalan dengan pasar global. Menurut data Refinitiv dalam laporan CNBC Indonesia, emas dunia menutup perdagangan di US$4.124,34 per troy ons pada 20 Oktober, melemah 0,07%. Itu pelemahan tiga hari beruntun.
Laporan yang sama menyebut harga emas kini sekitar 26% di bawah rekor Januari, yaitu US$5.594,82 per troy ons. Pemicunya adalah prospek suku bunga tinggi di Amerika Serikat. Pasalnya, obligasi berbunga jadi lebih menarik dibanding emas yang tidak memberi imbal hasil.
Menurut CNBC Indonesia, The Fed menggelar rapat kebijakan pada 27–28 Oktober. Selain itu, CME FedWatch Tool menghitung peluang kenaikan bunga pada Desember sekitar 92%. Karena itu, arah emas pekan depan sangat bergantung pada sinyal rapat tersebut.
Selisih Buyback Masih Rp185.000
Bagi pembeli ritel, angka yang lebih penting adalah jarak harga beli dan buyback. Hari ini selisihnya Rp185.000 per gram, atau sekitar 7,2% dari harga dasar. Artinya, harga emas perlu naik sekitar itu terlebih dahulu sebelum pembeli hari ini bisa impas.
Sebagai simulasi, pembelian 10 gram hari ini menelan Rp25.097.588 setelah PPh 0,25%, sesuai tabel Logam Mulia. Jika kamu langsung menjualnya kembali, nilai buyback-nya Rp23.690.000. Menurut ANTARA, buyback di atas Rp10 juta terkena PPh Pasal 22 sebesar 1,5%, yaitu Rp355.350 dalam simulasi ini. Akhirnya, dana bersih yang kamu terima sekitar Rp23.334.650, atau kurang Rp1.762.938 dari modal awal.
Oleh karena itu, emas batangan kurang cocok untuk uang yang mungkin kamu perlukan dalam beberapa bulan. Menurut kami, emas lebih masuk akal sebagai simpanan jangka panjang yang tidak terganggu kebutuhan mendadak.

Harga Pecahan Antam 21 Oktober
Selain pecahan 1 gram, penurunan juga berlaku di semua ukuran. Menurut data Logam Mulia dalam laporan ANTARA, pecahan besar lebih murah per gram. Sebaliknya, pecahan 0,5 gram paling mahal per gramnya.
Pecahan Harga dasar 21 Okt Setelah PPh 0,25% 0,5 gram Rp1.327.000 Rp1.330.318 5 gram Rp12.545.000 Rp12.576.363 10 gram Rp25.035.000 Rp25.097.588 25 gram Rp62.462.000 Rp62.618.155 100 gram Rp249.612.000 Rp250.236.030
Di sisi lain, harga Antam di Pegadaian berbeda dari Logam Mulia. Jadi, bandingkan harga di gerai tempat kamu benar-benar membeli. Untuk konteks pekan lalu, kamu bisa melihat harga emas Antam saat inflasi AS naik 3,7%.
Yang Perlu Dicek Sebelum Membeli
Sobat Kolabora yang menunggu momen beli bisa memantau dua hal: harga dasar harian Logam Mulia, yang berganti setiap pukul 08.30 WIB, dan hasil rapat The Fed 27–28 Oktober. Jika harga terus turun menjelang rapat, membeli bertahap dalam pecahan kecil mengurangi risiko salah waktu.





