Buyback Saham Telkom Dipercepat, Sisa Anggaran Rp3 Triliun

Gedung kantor Telkom Indonesia dengan logo perusahaan
Gedung Telkom Indonesia; perseroan mempercepat buyback saham senilai maksimal Rp4 triliun. Foto: musnahterinjak/Wikimedia Commons (CC BY-SA 3.0)

kolabora.id – Pada Selasa, 20 Oktober 2026, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk mengumumkan percepatan buyback saham Telkom senilai maksimal Rp4 triliun. Kabar ini ramai karena muncul setelah harga TLKM sempat menyentuh Rp1.770, level terendah sejak Juli 2012. Menurut IDX Channel, saham TLKM lalu melonjak 16% ke Rp2.060 pada hari yang sama.

Sisa anggarannya masih lebih dari Rp3 triliun per 19 Oktober 2026, seperti laporan Kontan.co.id. Dengan kata lain, Telkom belum memakai sebagian besar dana empat bulan setelah pemegang saham menyetujui program ini.

Isi Program Buyback Rp4 Triliun

Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) memberi restu pada 8 Juni 2026. Masa pelaksanaannya 12 bulan, yaitu 9 Juni 2026 sampai 8 Juni 2027, dan dananya berasal dari kas internal perseroan, menurut Kontan.co.id.

Dalam keterbukaan informasi Telkom tertanggal 4 Juni 2026, perseroan boleh membeli di dalam atau di luar bursa, bertahap atau sekaligus. Selain itu, total pembelian tidak boleh melampaui 10% dari modal ditempatkan dan disetor.

Direktur Utama Nanang Hendarno menyebut buyback sebagai wujud keyakinan manajemen terhadap nilai Telkom dan bagian dari strategi TLKM 30. Sementara itu, Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Arthur Angelo Syailendra menegaskan penggunaan modal harus sejalan dengan prioritas TelkomGroup, menurut Kontan.co.id.

Saham TLKM Tertekan Sejak Juni

Grafik harga saham TLKM 8 Juni 2026, titik terendah, dan 20 Oktober 2026
Harga TLKM turun dari Rp2.350 pada hari RUPST ke Rp1.770 sebelum memantul. Grafik: Kolabora, data Kontan, IDX Channel, Bisnis.com

Pada hari RUPST, 8 Juni 2026, TLKM menutup perdagangan di Rp2.350 per saham, menurut catatan Bisnis.com. Setelah itu tekanan berlanjut. IDX Channel menyebut sentimen Standalone Market MSCI dan pelemahan IHSG sebagai penekan utama.

Pada 20 Oktober 2026 pukul 12.20 WIB, TLKM naik 12,99% ke Rp2.000. Meski begitu, Kontan.co.id mencatat saham ini masih turun 42,53% sepanjang 2026. Lonjakan sehari jelas belum menghapus koreksi sebesar itu.

Beda dengan Buyback Rp2.290

Banyak investor ritel menyamakan program Rp4 triliun dengan buyback berharga tetap Rp2.290 per saham, menurut ringkasan PintarSaham atas pengumuman perseroan. Padahal, buyback kedua hanya berlaku bagi pemegang saham yang menolak spin-off segmen Wholesale Fiber Connectivity dalam RUPSLB 30 September 2026.

Telkom memindahkan segmen tersebut ke anak usahanya, PT Telkom Infrastruktur Indonesia. Pendaftaran lewat C-BEST juga sudah berakhir pada 5 Oktober 2026, menurut sumber yang sama. Akibatnya, investor yang baru membeli TLKM tidak bisa memakai jalur harga Rp2.290 tersebut.

Rekam Jejak Buyback Saham Telkom

Gedung kantor cabang Telkom Indonesia Sumatera Selatan di Palembang
Kantor Telkom wilayah Sumatera Selatan di Palembang. Foto: Firzafp/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)

Telkom bukan kali ini saja membeli kembali sahamnya. Menurut Liputan6.com edisi 17 April 2025, perseroan menyiapkan buyback Rp3 triliun untuk periode 28 Mei 2025 sampai 27 Mei 2026.

Hitungan sederhana dari kedua angka itu menunjukkan program 2026 lebih besar Rp1 triliun. Namun, ukuran anggaran tidak sama dengan realisasi, karena perusahaan boleh tidak menghabiskan seluruh dana sampai masa berlaku berakhir.

Arti Buyback bagi Investor Ritel

Buyback mengurangi jumlah saham beredar, sehingga laba per saham secara hitungan naik bila laba bersih tetap. Sebagai simulasi kasar, dana Rp1 triliun di harga Rp2.000 setara 500 juta lembar saham.

Di sisi lain, pembelian dengan kas internal juga mengurangi aset dan ekuitas perseroan sebesar dana yang terpakai. Karena itu, investor sebaiknya membaca buyback sebagai sinyal manajemen, bukan jaminan harga naik. Investor pemula bisa membandingkannya dengan kasus penurunan saham GOTO, ketika sentimen pasar ternyata lebih kuat daripada aksi korporasi.

Pola aliran dana asing juga layak dipantau, seperti yang terlihat pada saham BBCA yang diborong asing saat IHSG melemah. Bagi TLKM, keputusan MSCI soal klasifikasi pasar bisa sama pentingnya dengan buyback itu sendiri.

Angka yang Perlu Dicek Ulang

Pertama, pantau laporan realisasi di keterbukaan informasi BEI untuk melihat berapa lembar yang benar-benar Telkom beli. Kedua, cek apakah sisa anggaran di atas Rp3 triliun menyusut cepat menjelang batas 8 Juni 2027. Ketiga, perhatikan arah harga setelah lonjakan 20 Oktober, karena kenaikan satu hari sering memicu aksi ambil untung.

Tari Ismayah
Ditulis oleh

Tari Ismayah

Perempuan asli Sleman. Suka menulis, membaca, dan menggambar.

Pos terkait