Biaya Charging Mobil Listrik di Rumah vs SPKLU, Hitungan per kWh

Kabel pengisian tercolok ke port charging mobil listrik abu-abu, ilustrasi biaya charging mobil listrik
Kabel pengisian daya tercolok ke port mobil listrik saat proses charging/Foto: CHUTTERSNAP/Unsplash (Unsplash License)

Kolabora.id – Pukul sepuluh malam di sebuah rumah di Bekasi, indikator baterai Wuling Air ev tinggal beberapa persen setelah seharian bolak-balik kantor. Mengisi penuh baterai 26,7 kWh itu di rumah berdaya 3.500 VA menghabiskan sekitar Rp45 ribu, sedangkan di SPKLU angkanya bisa mencapai Rp66 ribu.

Selisih itu menentukan seberapa besar penghematan biaya charging mobil listrik dibanding bensin. Karena itu, artikel ini membedah tarif PLN per kWh, batas tarif SPKLU, rumus hitung, dan simulasi tiga varian mobil populer per 8 Oktober 2026.

Bacaan Lainnya

Tarif Charging di Rumah per kWh

Mobil listrik putih terparkir di garasi rumah, dengan wall charger terpasang di dinding
Mobil listrik dan wall charger di garasi rumah/Foto: Priscilla Du Preez/Unsplash (Unsplash License)

Di rumah, kamu membayar tarif rumah tangga biasa sesuai golongan daya. Golongan R-1 1.300–2.200 VA membayar Rp1.444,70 per kWh, sedangkan R-2 dan R-3 mulai 3.500 VA membayar Rp1.699,53 per kWh.

Ternyata, angka itu tidak berubah sejak pertengahan 2022. Terakhir, siaran pers Kementerian ESDM tanggal 30 Juni 2026 memastikan tarif triwulan III tidak naik, sementara penetapan triwulan IV belum terbit hingga 8 Oktober 2026.

Selain itu, PLN memberi diskon 30% untuk pengisian pukul 22.00–05.00 khusus pelanggan Home Charging Services (HCS). Siaran pers PLN Juli 2025 menyebut program itu berlaku sampai 30 Juni 2026, lalu direksi PLN menyatakan perpanjangan hingga 31 Desember 2026.

Bila diskon itu berlaku penuh, tarif malam pelanggan HCS golongan 3.500 VA setara sekitar Rp1.190 per kWh. Saat pameran GIIAS Agustus 2026, PLN menawarkan paket instalasi HCS Ultima mulai sekitar Rp11,7 juta.

Bahkan, peminatnya terus tumbuh. PLN mencatat 92 ribu pelanggan HCS hingga Juni 2026, dengan konsumsi semester I sebesar 110,55 GWh.

Tarif SPKLU dan Biaya Layanan

Deretan unit DC fast charger hitam di bawah kanopi panel surya stasiun pengisian umum
Unit DC fast charger di stasiun pengisian umum Hermsdorf, Jerman/Foto: Steffen Mokosch/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)

Di SPKLU, struktur biayanya punya dua lapis: tarif energi per kWh plus biaya layanan per sekali isi. Permen ESDM 1/2023 membatasi tarif energi paling tinggi 1,5 kali tarif golongan layanan khusus (L) PLN, atau sekitar Rp2.467 per kWh.

Lalu, Kepmen ESDM 182.K/TL.04/MEM.S/2023 menetapkan biaya layanan maksimal Rp25.000 untuk fast charging dan Rp57.000 untuk ultra fast charging. Kementerian ESDM mengumumkan aturan itu pada 31 Juli 2023 dan berjanji mengevaluasi besarannya tiap dua tahun.

Namun, kedua angka itu adalah batas atas, bukan harga wajib. Jadi, pengelola SPKLU boleh memungut lebih rendah, sehingga tagihan akhir di aplikasi bisa berbeda antartempat.

Bagian ini yang sering bikin orang keliru. SPKLU memungut biaya layanan per sesi, sehingga mengisi 5 kWh di SPKLU fast tetap kena biaya layanan penuh. Bila pengelola memakai batas atas, harga efektifnya sekitar Rp7.467 per kWh.

Rumus Biaya Charging Mobil Listrik

Rumusnya sederhana: kWh yang masuk × tarif per kWh + biaya layanan. Di rumah, biaya layanan bernilai nol.

Misalnya, BYD Atto 1 berbaterai 38,88 kWh menurut situs resmi BYD Indonesia. Mengisi dari kosong sampai penuh di rumah 3.500 VA berarti 38,88 × Rp1.699,53 = sekitar Rp66.078.

Sementara itu, di SPKLU fast dengan tarif batas atas hitungannya 38,88 × Rp2.467 + Rp25.000 = sekitar Rp120.917. Selisihnya hampir dua kali lipat untuk energi yang sama.

Satu catatan jujur: redaksi tidak menemukan angka resmi soal energi yang hilang saat pengisian. Jadi, tagihan riil biasanya sedikit di atas hasil rumus ini, terutama saat mengecas pelan di rumah.

Simulasi Tiga Varian Mobil Listrik

Tabel di bawah memuat hitungan redaksi untuk isi penuh dari 0 sampai 100%. Kapasitas baterai bersumber dari situs resmi Wuling dan BYD, sedangkan kolom SPKLU memakai tarif batas atas.

Mobil (baterai)R-1 1.300–2.200 VAR-2/R-3 ≥ 3.500 VAHCS, diskon malam 30%SPKLU tarif energi sajaSPKLU fast (+Rp25.000)
Wuling Air ev 200 km (17,3 kWh)Rp24.993Rp29.402Rp20.581Rp42.679Tidak bisa (AC saja)
Wuling Air ev 300 km (26,7 kWh)Rp38.573Rp45.377Rp31.764Rp65.869Tidak bisa (AC saja)
BYD Atto 1 (38,88 kWh)Rp56.170Rp66.078Rp46.254Rp95.917Rp120.917
Hitungan redaksi: isi penuh 0–100%, tarif per 8 Oktober 2026, belum termasuk energi yang hilang saat pengisian.

Kolom fast hanya berlaku untuk mobil yang menerima pengisian DC. Wuling menyebut Air ev memakai pengisian AC, sedangkan BYD mencantumkan DC hingga 30 kW untuk Atto 1 Dynamic dan 40 kW untuk Premium.

Biasanya, orang jarang mengecas dari nol persen. Jika mengisi 20% ke 80%, kalikan kolom rumah dan kolom tarif energi dengan 0,6.

Khusus fast, pengemudi tetap membayar biaya layanan penuh per sesi. Contohnya, Atto 1 yang mengisi 20% ke 80% di SPKLU fast membayar 0,6 × Rp95.917 + Rp25.000, atau sekitar Rp82.550.

Biaya per Km dan Pembanding Bensin

Atto 1 menempuh hingga 380 km per isi penuh menurut BYD, dengan standar uji NEDC. Dengan tarif rumah 3.500 VA, biaya energinya sekitar Rp17.389 per 100 km, hitungan redaksi.

Sebagai pembanding, Pertamax berharga Rp15.950 per liter di Jawa, Bali, NTB, dan NTT sesuai harga BBM Pertamina Oktober 2026. Mobil bensin dengan asumsi 12 km per liter menghabiskan sekitar Rp132.917 untuk 100 km yang sama.

Bahkan lewat SPKLU fast bertarif batas atas, Atto 1 hanya butuh sekitar Rp31.820 per 100 km. Selisihnya tetap lebar, tetapi angka NEDC biasanya lebih optimistis daripada jalanan macet Jakarta.

Meski begitu, biaya mengecas yang murah tidak berarti kepemilikan mobil listrik otomatis hemat. Harga beli, pajak, dan status insentif tetap masuk hitungan; rinciannya ada di panduan mobil listrik di Indonesia.

Pilih Rumah atau SPKLU

Close-up colokan pengisian CCS2 di kiri dan Type 2 di kanan untuk mobil listrik
Colokan CCS2 untuk pengisian DC (kiri) dan Type 2 untuk AC (kanan)/Foto: Paul Sladen/Wikimedia Commons (CC0)

Jadi, rumah menang telak untuk pemakaian harian. Untuk Atto 1, mengecas di rumah 3.500 VA sekitar 45% lebih murah daripada SPKLU fast bertarif batas atas, apalagi bagi pelanggan HCS yang mendapat diskon malam.

Sebaliknya, SPKLU cocok untuk dua kondisi: perjalanan luar kota dan penghuni apartemen tanpa colokan pribadi. Untuk kondisi kedua, pilih sesi pengisian yang panjang agar biaya layanan tersebar ke lebih banyak kWh.

Lalu, bagaimana dengan rumah 1.300 VA yang dayanya pas-pasan? Mengecas memang tetap bisa, tetapi beban AC dan pompa air bersamaan berisiko membuat MCB turun. Karena itu, hitung biaya tambah daya lebih dulu sebelum memutuskan membeli mobil listrik.

Akhirnya, satu kebiasaan sederhana sudah memberi selisih besar. Pelanggan HCS sebaiknya mengisi setelah pukul 22.00, lalu menyimpan SPKLU fast untuk jalan jauh.

Tarif listrik triwulan IV 2026 masih menunggu penetapan Kementerian ESDM, begitu pula hasil evaluasi biaya layanan SPKLU. Cek ulang hitungan ini saat salah satunya terbit, Sobat Kolabora.

Tari Ismayah
Ditulis oleh

Tari Ismayah

Perempuan asli Sleman. Suka menulis, membaca, dan menggambar.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *