Niacinamide: Kadar, Cara Pakai, dan Kombinasi yang Aman

Botol serum kaca bening berisi cairan kuning dengan pipet tergeletak di sampingnya di atas latar merah muda
Serum dalam botol kaca berpipet. Foto: Maria Lupan/Unsplash (Unsplash License)

kolabora.id – Niacinamide cocok untuk sebagian besar jenis kulit, dan menurut data uji klinis di PubMed, kadar 2–5% punya bukti paling banyak. Untuk cara pakai niacinamide, oleskan lapisan tipis setelah wajah bersih, mulai sekali sehari, lalu tutup dengan pelembap dan sunscreen di pagi hari.

Kamu juga bisa menggabungkannya dengan vitamin C atau retinoid. Larangan yang beredar di media sosial berasal dari uji laboratorium, bukan dari kulit manusia. Di bawah ini ada tabel kadar beserta studinya, langkah memulai, urutan pagi-malam, dan tanda kapan kamu perlu berhenti.

Bacaan Lainnya

Pilih Kadar Niacinamide Sesuai Tujuan

Tangan meneteskan sedikit produk perawatan kulit dari botol putih ke punggung tangan, dengan jade roller di latar
Kadar tinggi tidak otomatis berarti hasil lebih cepat; takaran tipis sudah cukup. Foto: Content Pixie/Unsplash (Unsplash License)

Niacinamide adalah bentuk vitamin B3. Menurut tinjauan Gehring dalam Journal of Cosmetic Dermatology (2004), bahan ini memperkuat lapisan pelindung kulit, menaikkan produksi seramid, dan meredakan peradangan pada jerawat.

Namun, para peneliti mengukur manfaat itu pada kadar tertentu. Tabel berikut merangkum data uji klinis dari abstrak PubMed yang kami telusuri, mulai dari kadar terendah.

KadarTujuan studiPeserta dan durasiTemuan utama
2%Kulit berminyak100 orang Jepang, 4 mingguProduksi sebum turun di minggu ke-2 dan ke-4 (Draelos dkk., 2006)
4%Jerawat meradang76 pasien, 8 mingguMembaik pada 82% pasien, setara gel klindamisin 1% yang 68% (Shalita dkk., 1995)
4%Melasma27 pasien, 8 mingguHasil baik 44% vs hidrokuinon 55%, efek samping lebih sedikit (Navarrete-Solís dkk., 2011)
5%Noda gelap18 orang, 4 mingguHiperpigmentasi berkurang lebih banyak daripada krim dasar (Hakozaki dkk., 2002)
5%Tanda penuaan50 perempuan, 12 mingguGaris halus, noda, dan kemerahan berkurang (Bissett dkk., 2005)
10% (campuran)Melasma50 perempuan, 60 hariSkor melasma turun 32% vs hidrokuinon 43%, beda tidak bermakna (Barbosa dkk., 2024)
Sumber: abstrak PubMed yang kami telusuri 20 Oktober 2026. Peneliti produsen kosmetik menulis studi Hakozaki dan Bissett.

Jadi, angka 10% di kemasan bukan jaminan hasil lebih baik. Kami tidak menemukan uji klinis yang membandingkan langsung 10% dengan 5%, dan satu-satunya uji 10% memakai campuran bahan lain.

Menurut kami, kadar 2–5% adalah titik awal paling masuk akal. Kamu bisa mencoba kadar 10% belakangan bila kulitmu sudah terbiasa dan tidak bereaksi.

Mulai Pakai Niacinamide Secara Bertahap

Dua tangan mengambil krim putih dari wadah kecil polos di atas wastafel kamar mandi
Pelembap menyusul setelah serum untuk membantu kulit beradaptasi dengan bahan baru. Foto: Lance Reis/Unsplash (Unsplash License)

Jangan langsung mengoles produk baru ke seluruh wajah. Berikut urutan memulai yang kami susun dari anjuran American Academy of Dermatology (AAD) dan pola pakai dalam uji klinis di atas.

  1. Uji dulu di area kecil, misalnya lengan bagian dalam atau lipatan siku, dua kali sehari selama 7–10 hari sesuai anjuran AAD.
  2. Pakai sekali sehari pada malam hari selama minggu pertama di seluruh wajah.
  3. Oleskan beberapa tetes tipis pada wajah yang sudah bersih dan kering, lalu tunggu sampai meresap.
  4. Tambah menjadi pagi dan malam bila kulit tetap tenang, sama seperti pola dua kali sehari dalam studi Shalita dan Bissett.
  5. Catat perubahan kulit, lalu nilai hasilnya setelah 4–12 minggu, sesuai durasi uji klinis di tabel.

Mungkin kamu merasa langkah ini terlalu lambat. Akan tetapi, memulai pelan membuat kamu tahu persis produk mana yang memicu reaksi bila kulit tiba-tiba memerah.

Atur Urutan Pagi dan Malam

Infografik urutan rutinitas pagi dan malam dengan serum niacinamide sebelum pelembap dan sunscreen
Niacinamide masuk setelah pembersih dan sebelum pelembap, baik pagi maupun malam. Infografik: Kolabora

Kamu boleh memakai niacinamide pagi maupun malam. Patokannya sederhana: produk encer lebih dulu, lalu produk yang lebih kental.

Di pagi hari, sunscreen selalu menjadi lapisan terakhir. Panduan memilih produknya ada di artikel cara memilih sunscreen, sedangkan takaran sunscreen untuk wajah menjelaskan jumlah yang perlu kamu oles.

Pemakaian pagi juga punya dasar: dalam uji Hakozaki (2002), peserta yang memakai niacinamide 2% bersama tabir surya tetap mendapat efek mencerahkan. Sementara itu, malam hari cocok bila pagimu sudah penuh produk.

Pahami Kombinasi Niacinamide yang Aman

Mitos “jangan campur niacinamide dengan vitamin C” berakar dari studi larutan di laboratorium oleh Guttman dan Brooke pada 1963. Kondisi itu berbeda jauh dengan krim yang kamu oles di kulit pada suhu ruang.

Meski begitu, ada interaksi nyata yang tercatat. Ahmad dkk. (2012) menemukan niacinamide mempercepat kerusakan vitamin C di dalam krim yang terkena sinar UV. Artinya, masalahnya ada pada kestabilan produk, bukan bahaya bagi kulitmu.

Karena itu, simpan produk vitamin C jauh dari sinar matahari. Bila kulitmu mudah perih, oleskan vitamin C lebih dulu, tunggu meresap, baru niacinamide.

Pasangan dengan retinoid justru menguntungkan. Menurut studi Draelos dkk. (2006), pelembap berisi niacinamide membantu kulit melewati fase iritasi awal tretinoin 0,025%. DermNet juga mencatat niacinamide sering cocok bagi orang yang tidak tahan retinoid.

Untuk asam eksfolian seperti AHA dan BHA, risiko utamanya adalah iritasi bertumpuk. Jadi, jangan memulai dua bahan aktif baru pada minggu yang sama.

Kenali Efek Samping dan Tanda Berhenti

Panel Cosmetic Ingredient Review (2005) menilai niacinamide aman untuk kosmetik. Menurut laporan panel itu, dalam uji klinis yang mereka kaji, bahan ini tidak menimbulkan rasa menyengat hingga kadar 10% dan tidak memicu iritasi hingga 5%.

DermNet menyebut kulit terlalu kering sebagai efek samping yang paling umum. Solusinya cukup dengan mengurangi frekuensi pakai, misalnya kembali ke sekali sehari.

Banyak orang juga mengaitkan kemerahan panas atau flushing dengan niacinamide. Padahal, menurut tinjauan Marques dkk. (2024), flushing berasal dari niacin dosis tinggi yang diminum, sedangkan niacinamide tidak melebarkan pembuluh darah kulit.

Meski jarang, tetap hentikan pemakaian bila muncul gatal, bengkak, ruam, atau perih yang tidak hilang setelah beberapa hari. Bila reaksinya berat atau meluas, periksakan ke dokter kulit.

Bagi ibu hamil, tinjauan Davis dkk. (2026) menilai niacinamide oles umumnya aman, walau belum ada studi besar pada kehamilan. Bahan lain yang perlu kamu cek ada di skincare aman untuk ibu hamil.

Cek Label dan Izin BPOM Sebelum Membeli

Tangan memegang botol kaca cokelat kecil tanpa label sambil menarik pipet berisi cairan
Hindari membeli botol tanpa label atau nomor izin, semurah apa pun harganya. Foto: Cosmin Ursea/Unsplash (Unsplash License)

Di Indonesia, niacinamide tidak masuk daftar bahan terbatas maupun terlarang dalam Peraturan BPOM Nomor 25 Tahun 2025, yang berlaku sejak 3 Oktober 2025. Karena tidak ada batas kadar resmi, label produk menjadi pegangan utama.

Pertama, cari nama niacinamide di daftar komposisi. Banyak produk tidak menulis persentasenya, sehingga klaim di iklan, contohnya “10%”, belum tentu ada di kemasan.

Kedua, ikuti imbauan Cek KLIK dari BPOM: periksa Kemasan, Label, Izin edar, dan Kedaluwarsa. Nomor notifikasi kosmetik terdiri dari dua huruf dan 11 digit, misalnya berawalan NA untuk produk Asia.

Ketik nomor itu di cekbpom.pom.go.id. Bila hasilnya kosong, Sobat Kolabora sebaiknya tidak memakai produk tersebut di wajah.

Pada akhirnya, niacinamide yang paling berguna adalah yang kamu pakai rutin tanpa iritasi, bukan yang kadarnya paling tinggi. Mulai dari 2–5%, beri waktu beberapa minggu, lalu nilai sendiri hasilnya.

Tari Ismayah
Ditulis oleh

Tari Ismayah

Perempuan asli Sleman. Suka menulis, membaca, dan menggambar.

Pos terkait