Cara Memilih Sunscreen yang Tepat: SPF, PA, dan Jenis Kulit

Botol semprot sunscreen biru di tepi kolam renang, ilustrasi cara memilih sunscreen
Tabir surya ikut dibawa ke kolam; pilih yang tahan air dan berspektrum luas untuk aktivitas luar ruang. Foto: Nathan Jeon/Unsplash (Unsplash License)

kolabora.id – Urutan cara memilih sunscreen yang tepat sebenarnya pendek: cari SPF 30 ke atas, tanda PA+++ atau PA++++, dan tulisan broad spectrum di label. Setelah itu, pilih tekstur sesuai jenis kulit, lalu pastikan nomor notifikasinya muncul di Cek BPOM sebelum membayar.

Langkah terakhir itu tidak berlebihan, karena BPOM pernah menemukan banyak produk tanpa bukti angka SPF. Selain itu, harga per mL di etalase resmi bisa berbeda lebih dari dua kali lipat. Karena itu, panduan ini membahas arti angka di label, pilihan per jenis kulit, cara cek BPOM, dan hitungan biaya bulanannya.

Baca Angka SPF dan PA di Label

Tangan memegang botol sunscreen berlabel SPF 35 PA++++ dengan simbol UVA dan UVB di bawah langit biru
Label tabir surya memuat angka SPF untuk UVB, tingkat PA untuk UVA, dan simbol spektrum luas. Foto: Alpantex/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)

Pertama, SPF mengukur perlindungan terhadap UVB, sinar yang memicu kulit terbakar. Menurut American Academy of Dermatology (AAD), SPF 30 menahan sekitar 97% UVB, dan tidak ada tabir surya yang menahan 100%.

Jadi, lompatan dari SPF 30 ke SPF 50 hanya menambah sedikit perlindungan. Angka tinggi juga tidak memperpanjang jeda oles ulang, karena kamu tetap perlu mengoles lagi kira-kira tiap dua jam.

Selain itu, BPOM memakai empat kategori SPF di Lampiran II Peraturan BPOM Nomor 18 Tahun 2024. Rinciannya: rendah (6 sampai di bawah 15), sedang (15 sampai di bawah 30), tinggi (30 sampai di bawah 50), dan sangat tinggi (50 ke atas).

Lampiran yang sama memberi contoh sederhana. Kulit yang memerah setelah 10 menit tanpa pelindung kira-kira bertahan 150 menit dengan SPF 15, lalu tetap butuh olesan ulang.

Sementara itu, PA mengukur perlindungan terhadap UVA, sinar yang menembus awan dan kaca serta berkaitan dengan kerut. Sistem ini lahir dari standar industri kosmetik Jepang, dan sejak Januari 2013 tingkat tertingginya adalah PA++++.

Makin banyak tanda plus, makin tinggi perlindungan UVA. Karena itu, untuk pemakaian harian saya tidak akan membayar lebih hanya demi SPF di atas 50, tetapi akan memastikan PA-nya minimal PA+++.

Pastikan Tiga Syarat Minimal

AAD merangkum syarat dasar tabir surya dalam tiga hal: SPF 30 atau lebih, spektrum luas, dan tahan air. Saat berdiri di depan rak toko atau membuka etalase daring, pakai urutan ini:

  1. Cari angka SPF 30 ke atas di depan kemasan. Angka ini sudah masuk kategori tinggi versi BPOM.
  2. Pastikan ada tanda PA+++ atau PA++++, atau tulisan broad spectrum dan UVA/UVB. Tanpa itu, kulitmu baru terlindung dari UVB.
  3. Cek klaim water resistant bila kamu berenang atau mudah berkeringat. Menurut AAD, klaim ini berarti perlindungan bertahan 40 atau 80 menit saat basah, lalu perlu olesan ulang.
  4. Waspadai klaim perlindungan 100% atau “tidak perlu oles ulang seharian”. Lampiran II Peraturan BPOM 18/2024 melarang label tabir surya menyiratkan kedua hal itu.
  5. Lihat tanggal kedaluwarsa dan nomor notifikasi BPOM di kemasan, lalu cek nomornya dengan langkah di bagian izin edar.

Bedak atau pelembap ber-SPF bukan pengganti. Pedoman tabir surya BPOM bahkan tidak berlaku untuk produk yang fungsi utamanya bukan pelindung UV.

Pilih Filter Mineral atau Kimia

Tabir surya mineral memakai zinc oxide atau titanium dioxide. Manual UV Kementerian Lingkungan Hidup Jepang mencatat filter ini sedikit meninggalkan warna putih, tetapi hampir tidak memicu alergi.

Sebaliknya, filter kimia atau organik bekerja dengan menyerap sinar UV. Hasilnya biasanya bening tanpa sisa putih, namun pada sebagian orang bisa memicu reaksi alergi.

AAD menyarankan bahan mineral untuk kulit sensitif. Kalau kulitmu jarang bermasalah, menurut saya tekstur yang nyaman jauh lebih menentukan, karena sunscreen yang tidak enak dipakai biasanya berakhir di laci.

Memilih Sunscreen Sesuai Jenis Kulit

Aneka produk skincare berupa krim dalam jar, serum, dan botol pump di atas keranjang anyaman
Tekstur krim, gel, dan serum berbeda kecocokannya untuk kulit berminyak, kering, sensitif, atau kombinasi. Foto: Poko Skincare/Unsplash (Unsplash License)

BPOM menegaskan tekstur atau kekentalan tidak berhubungan dengan nilai SPF. Jadi, pilih tekstur dari kondisi kulit, lalu cocokkan angka perlindungannya dengan tiga syarat minimal tadi.

Jenis kulitPilihHindari
BerminyakGel atau serum berbasis airKrim kental berbasis minyak
BerjerawatTekstur ringan berlabel non-comedogenicProduk yang memicu bintik baru setelah beberapa hari
KeringKrim berbasis minyak yang terasa melembapkanTekstur yang membuat kulit terasa ketarik
SensitifFilter mineral zinc oxide atau titanium dioxideFilter kimia yang pernah memicu gatal atau merah
KombinasiGel ringan plus pelembap di area keringSatu krim tebal untuk seluruh wajah
Panduan tekstur per jenis kulit; saran gel dan krim dari penjelasan publik BPOM 4 September 2023.

Saran gel untuk kulit berminyak dan krim untuk kulit kering berasal dari penjelasan publik BPOM. Untuk kulit berjerawat, AAD hanya menyebut satu hal yang bisa kamu cek di label, yaitu tulisan non-comedogenic.

Selebihnya, uji coba kecil lebih jujur daripada klaim iklan: oleskan sedikit di rahang selama tiga hari dulu.

Cek Izin Edar di BPOM

Dalam penjelasan publik 4 September 2023, BPOM melaporkan seluruh tabir surya yang masuk audit dokumen pada 2020, 2021, dan 2023 tidak memenuhi ketentuan, sedangkan pada 2022 angkanya 53%. Penyebab utamanya, pemilik izin edar tidak bisa membuktikan nilai SPF di label.

Namun, audit itu berbasis risiko. Angkanya menggambarkan produk yang menjadi sasaran pengawasan, bukan seluruh sunscreen di pasar.

BPOM juga menegaskan nilai SPF di label harus berasal dari uji in vivo pada manusia, sedangkan uji in vitro hanya berfungsi sebagai uji pendahuluan. Pelanggar bisa terkena sanksi, mulai dari perbaikan klaim sampai pencabutan izin edar.

Ikuti langkah Cek KLIK (Kemasan, Label, Izin edar, Kedaluwarsa) berikut sebelum membeli:

  1. Temukan nomor notifikasi di kemasan, yaitu dua huruf dan 11 angka. Produk dari kawasan Asia, termasuk Indonesia, berawalan NA.
  2. Buka situs Cek BPOM atau aplikasi BPOM Mobile di ponsel.
  3. Ketik nomor notifikasi, nama produk, atau merek di kolom pencarian produk.
  4. Cocokkan nama produk, merek, dan pendaftar di hasil pencarian dengan kemasan. Produk yang tidak muncul patut kamu curigai.
  5. Periksa kemasan saat barang tiba: segel utuh, label lengkap, dan tanggal kedaluwarsa masih jauh.

Hitung Takaran dan Biaya Bulanan

Tangan menuang krim dari tube ke telapak tangan di atas handuk pantai, ilustrasi takaran oles
Takaran cukup penting: standar uji SPF memakai 2 mg per cm² kulit, jauh lebih banyak dari olesan tipis. Foto: BATCH by Wisconsin Hemp Scientific/Unsplash (Unsplash License)

Nilai SPF dan PA di label hanya tercapai dengan takaran sekitar 2 mg per cm² kulit, sesuai Lampiran II Peraturan BPOM 18/2024. Dalam praktik, AAD menyebut wajah butuh minimal 1 sendok teh, kira-kira sepanjang jari telunjuk dan jari tengah.

Sementara itu, untuk seluruh tubuh, AAD menyebut sekitar 1 ons atau seukuran gelas sloki. Oleskan 15 menit sebelum keluar, lalu ulangi tiap dua jam dan setelah berenang atau berkeringat.

Takaran itu langsung menentukan biaya. Hitungan redaksi memakai asumsi 1 sendok teh setara 5 mL per pemakaian di wajah, sekali sehari selama 30 hari, sehingga totalnya 150 mL per bulan.

Jadi, rumusnya: biaya bulanan = harga per mL × 150 mL. Contohnya, Rp1.500 per mL × 150 mL = Rp225.000 per bulan.

Produk (situs resmi, cek 8 Oktober 2026)IsiHargaPer mLBiaya 150 mL
Wardah UV Shield Airy Smooth Sunscreen Serum SPF50 PA++++25 mLRp37.500Rp1.500Rp225.000
Somethinc Holyshield Watery Sunscreen Gel SPF 50+ PA++++ (promo)50 mLRp139.000Rp2.780Rp417.000
Somethinc Holyshield Watery Sunscreen Gel SPF 50+ PA++++ (promo)25 mLRp89.000Rp3.560Rp534.000
Hitungan redaksi: asumsi 5 mL per pemakaian wajah, sekali sehari, 30 hari.

Namun, tabel ini hanya contoh harga dari situs resmi merek, bukan rekomendasi produk. Saat redaksi mengecek, varian Wardah itu berstatus stok habis, sedangkan harga normal Somethinc 25 mL dan 50 mL adalah Rp112.000 dan Rp174.000.

Artinya, dengan takaran anjuran AAD, tube 25 mL hanya cukup untuk sekitar lima kali pakai. Bila satu tube kecil awet sebulan, kemungkinan besar olesanmu terlalu tipis dan angka SPF di label tidak tercapai.

Tapi apakah perlindungan harus semahal itu? Tidak selalu, karena ukuran besar biasanya lebih murah per mL, seperti selisih Rp780 per mL pada contoh Somethinc di atas. Menyetok ukuran besar saat jadwal promo 10.10 dan 11.11 juga masuk akal, asalkan tanggal kedaluwarsanya masih jauh.

Kesalahan Umum dan Kapan ke Dokter

Dua pejalan kaki di jalan kota saat terik, satu berpayung putih dan satu bertopi lebar
Payung dan topi membantu di jalan terik, tetapi tetap perlu sunscreen yang dioles ulang tiap dua jam. Foto: Margo Evardson/Unsplash (Unsplash License)

Biasanya, kesalahan berikut membuat sunscreen tidak bekerja sesuai angkanya:

  • Mengandalkan bedak atau pelembap ber-SPF sebagai satu-satunya pelindung, padahal olesannya tipis.
  • Lupa mengoles ulang setelah dua jam di luar, berenang, atau berkeringat.
  • Menyimpan sunscreen di dasbor mobil atau tempat panas. BPOM dan AAD sama-sama meminta produk jauh dari panas dan sinar matahari langsung.
  • Memakai produk lewat kedaluwarsa. Menurut AAD, aturan FDA meminta tabir surya mempertahankan kekuatan awalnya minimal tiga tahun, jadi tetap cek tanggal di kemasan.
  • Merasa aman berjemur lama karena sudah memakai SPF tinggi. BPOM tetap menyarankan kamu menghindari aktivitas lama di bawah matahari pukul 10.00–14.00.

Akhirnya, hentikan pemakaian dan temui dokter spesialis kulit bila muncul ruam, gatal, atau perih yang tidak hilang setelah berhenti memakai produk. Untuk bayi di bawah enam bulan, Peraturan BPOM 18/2024 mencantumkan anjuran konsultasi dokter sebelum memakai tabir surya.

Sobat Kolabora, sunscreen terbaik adalah yang kamu oleskan cukup tebal setiap hari, bukan yang angkanya paling besar di rak.

Tari Ismayah
Ditulis oleh

Tari Ismayah

Perempuan asli Sleman. Suka menulis, membaca, dan menggambar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *