kolabora.id – Kompas.com memuat kesaksian sejumlah mahasiswa soal ongkos kuliah di Depok dan Bogor pada Senin, 19 Oktober 2026. Hasilnya, biaya hidup mahasiswa UI dan IPB berkisar Rp2 juta sampai Rp6 juta per bulan. Mahasiswa IPB menyebut Rp2 juta–Rp2,5 juta, sedangkan mahasiswa UI menyebut Rp4 juta–Rp6 juta.
Perlu dicatat, angka itu bukan tarif resmi kampus. Meski begitu, kisarannya berguna bagi orang tua yang sedang menyusun uang saku, terutama ketika kos menjadi pos terbesar.
Harga Kos Mahasiswa UI dan IPB

Menurut mahasiswa Sistem Informasi UI yang dikutip Kompas.com, kos tanpa AC di Kukusan Teknik (Kutek) dipatok Rp500.000–Rp600.000 per bulan. Harga itu belum termasuk listrik, dan kamar mandinya di luar.
Sementara itu, kamar ber-AC dengan listrik dan kamar mandi dalam di Kutek mulai Rp1,1 juta. Di sisi Bogor, mahasiswa IPB menyebut kos tanpa AC di Babakan Rp900.000–Rp1,5 juta, lalu kamar ber-AC Rp1,5 juta–Rp3 juta.
Di samping itu, pilihan lebih murah ada di Bangbarung, sekitar lima menit dari kampus IPB. Menurut mahasiswa IPB kepada Kompas.com, kamar di sana seharga Rp800.000 sudah termasuk listrik dan air, tetapi kamar mandinya di luar.
Biaya Makan Mahasiswa Hampir Sama

Di luar urusan kos, ongkos makan di dua kota ini nyaris setara. Narasumber Kompas.com menyebut sekali makan Rp15.000–Rp25.000, sehingga kebutuhan per hari sekitar Rp40.000–Rp50.000.
Selain itu, mahasiswa UI menyisihkan Rp100.000 per bulan untuk laundry. Bahkan, nongkrong di kafe bisa menghabiskan Rp50.000–Rp150.000 sekali datang, jadi pos inilah yang paling mudah membengkak.
Simulasi Biaya Hidup Rp2 Juta ke Atas
Untuk melihat batas bawahnya, Kolabora menyusun simulasi dari angka di atas. Rumusnya sederhana: kos + (makan harian × 30 hari) + laundry, tanpa listrik terpisah, transportasi, buku, dan hiburan.
| Skenario (simulasi) | Kos per bulan | Makan 30 hari | Laundry | Total minimal |
|---|---|---|---|---|
| UI, Kutek tanpa AC | Rp500.000–Rp600.000 | Rp1,2 juta–Rp1,5 juta | Rp100.000 | Rp1,8 juta–Rp2,2 juta |
| UI, Kutek ber-AC | Rp1,1 juta | Rp1,2 juta–Rp1,5 juta | Rp100.000 | Rp2,4 juta–Rp2,7 juta |
| IPB, Bangbarung | Rp800.000 | Rp1,2 juta–Rp1,5 juta | Rp100.000 | Rp2,1 juta–Rp2,4 juta |
| IPB, Babakan ber-AC | Rp1,5 juta–Rp3 juta | Rp1,2 juta–Rp1,5 juta | Rp100.000 | Rp2,8 juta–Rp4,6 juta |
Dari tabel itu terlihat, skenario hemat di kedua kampus sama-sama butuh sekitar Rp2 juta. Jadi, angka Rp4 juta–Rp6 juta versi mahasiswa UI menurut Kompas.com sudah mencakup kos, makan, hiburan, dan biaya tambahan lain.
Biaya Hidup Dibanding UMK dan BPS

Sebagai pembanding, Keputusan Gubernur Jawa Barat Nomor 561.7/Kep/862-Kesra/2025 menetapkan UMK 2026 Kota Depok Rp5.522.662. Keputusan yang sama memasang UMK Kabupaten Bogor, lokasi kampus IPB Dramaga, sebesar Rp5.161.769.
Dengan demikian, ongkos versi mahasiswa UI setara 72–109 persen UMK Depok. Sebaliknya, kisaran mahasiswa IPB hanya sekitar 39–48 persen UMK Kabupaten Bogor.
Data Survei Biaya Hidup 2022 BPS juga menunjukkan selisih yang sama. Dalam survei itu, nilai konsumsi rumah tangga di Kota Depok tercatat Rp12,35 juta per bulan, sementara Kota Bogor Rp10,73 juta.
Asrama dan Pengeluaran yang Sering Terlupa
Bagi keluarga yang anggarannya ketat, orang tua sebaiknya mengecek asrama kampus lebih dulu. Menurut dokumen penawaran asrama IPB 2026/2027, penerima KIP Kuliah program sarjana wajib tinggal di Asrama Mahasiswa IPB.
Namun, dokumen itu tidak mencantumkan nominal biaya, sehingga calon mahasiswa perlu menanyakannya langsung ke unit asrama. Sementara itu, Kolabora gagal membuka situs resmi asrama UI pada 19 Oktober 2026 karena sertifikatnya kedaluwarsa.
Sebagian orang tua mungkin menilai Rp2 juta sudah cukup longgar. Kenyataannya, simulasi tadi belum memasukkan ongkos pulang kampung, fotokopi, kuota internet, dan berobat. Oleh sebab itu, menurut kami, cadangan 20 persen di atas total simulasi adalah titik aman.
Jika uang saku mulai seret, cicilan instan sering terlihat menggoda. Padahal, syarat paylater versi OJK kini menuntut penghasilan minimal Rp3 juta, sehingga kebanyakan mahasiswa belum memenuhinya.
Pada akhirnya, pilihan kos menjadi penentu terbesar anggaran. Karena itu, survei langsung ke Kutek, Babakan, atau Bangbarung sebelum semester baru jauh lebih berguna daripada menebak dari media sosial.





