Kolabora.id – Jawaban berapa lama charging mobil listrik bergantung pada satu hitungan: energi yang kamu butuhkan dibagi daya efektif. Sebagai gambaran, baterai 60 kWh dari 20% ke 80% butuh sekitar 5 jam 43 menit di wallbox 7 kW. Di stopkontak 2,2 kW, waktunya melonjak jadi 18 jam, sedangkan DC 50 kW memangkasnya ke sekitar 48 menit.
Semua angka di atas adalah simulasi Kolabora dengan asumsi efisiensi 90%. Karena itu, artikel ini membuka rumusnya, menguji rumus itu dengan data resmi pabrikan, lalu menjelaskan kenapa pengisian selalu melambat setelah 80%. Selain itu, urusan tarif per kWh sudah kami bahas terpisah di artikel biaya charging mobil listrik di rumah dan SPKLU.
Rumus Menghitung Lama Charging Sendiri
Rumusnya sederhana: lama (jam) = kapasitas baterai (kWh) × selisih persen ÷ (daya kW × efisiensi). Untuk daya, ambil angka terkecil antara kemampuan charger dan batas terima mobil.
Efisiensi 90% dalam simulasi ini adalah asumsi kami, bukan angka resmi. Pasalnya, sebagian listrik hilang sebagai panas di kabel, charger, dan sistem pendingin baterai.
Lalu, apakah rumus kasar ini akurat? Lembar spesifikasi resmi Hyundai (India) untuk IONIQ 5 baterai 84 kWh mencatat pengisian AC 11 kW dari 10% ke 100% butuh 7 jam 35 menit. Sementara itu, rumus di atas menghasilkan 7 jam 38 menit, hanya selisih tiga menit.
Silakan isi kalkulator berikut dengan data mobilmu. Batas daya terima AC dan DC biasanya tercantum di buku manual atau brosur resmi.
Kalkulator Lama Charging Mobil Listrik
Perkiraan waktu isi daya dari persen awal ke persen target, memakai daya terkecil antara charger dan batas terima mobil.
Simulasi teoretis dengan daya rata. Pada DC, waktu nyata di atas 80 persen lebih lama karena mobil menurunkan daya; isi batas daya terima sesuai buku manual mobilmu (AC dan DC berbeda).
Sumber: Kategori daya SPKLU: Permen ESDM 1/2023 · Batas daya AC/DC: lembar spesifikasi produsen
Contoh pengisian dengan nilai bawaan kalkulator: baterai 60 kWh dari 20% ke 80% di wallbox 7 kW, efisiensi 90%, memberi hitungan 60 × 60% = 36 kWh, lalu 36 ÷ (7 × 0,9) = 5,71 jam atau sekitar 5 jam 43 menit.
Simulasi Baterai 40, 60, dan 75 kWh

Tabel berikut memakai rumus yang sama untuk tiga ukuran baterai yang umum di pasar Indonesia. Dalam simulasi ini, kami memakai rentang 20% ke 80% karena rentang itulah yang paling sering kamu isi sehari-hari.
Baterai Energi 20–80% 2,2 kW 7 kW 11 kW DC 50 kW 40 kWh 24 kWh 12 jam 7 menit 3 jam 49 menit 2 jam 25 menit 32 menit 60 kWh 36 kWh 18 jam 11 menit 5 jam 43 menit 3 jam 38 menit 48 menit 75 kWh 45 kWh 22 jam 44 menit 7 jam 9 menit 4 jam 33 menit 1 jam
Sebagai contoh nyata, BYD Atto 3 memakai baterai 60,48 kWh menurut situs resmi BYD Indonesia, sehingga baris 60 kWh cukup mewakilinya. Namun, kolom DC di tabel ini terlalu optimistis untuk sebagian mobil karena daya DC jarang bertahan rata.
Charging Rumah: 2,2 kW Lawan 7 kW

Pada dasarnya, pilihan praktis di rumah hanya dua. Pertama, charger portabel di stopkontak biasa sekitar 2,2 kW. Kedua, wallbox AC 7 kW yang butuh tambahan daya listrik.
Wuling, misalnya, menyebut pemilik New Air ev bisa mengisi daya di rumah dengan listrik minimum 2.200 W. Dengan daya sekecil itu, baterai 26,7 kWh dari 20% ke penuh butuh sekitar 10 jam 47 menit menurut simulasi kami. Jadi, mencolok sejak pukul 21.00 masih cukup untuk berangkat kerja pagi.
Sebaliknya, mobil berbaterai besar kurang cocok dengan 2,2 kW. Ambil contoh BYD Atto 1 Premium yang memakai baterai 38,88 kWh menurut situs resmi BYD Indonesia. Di wallbox 7 kW, mobil itu naik dari 20% ke 80% dalam sekitar 3 jam 42 menit, sedangkan stopkontak biasa butuh hampir 12 jam.
Hanya saja, wallbox 7 kW menuntut daya rumah yang memadai. Simak syarat daya, biaya tambah daya, dan langkahnya di panduan pasang charger mobil listrik di rumah.
AC Publik dan DC Cepat di SPKLU

Permen ESDM Nomor 1 Tahun 2023 membagi SPKLU menjadi empat kelas daya. Kelas lambat sampai 7 kW, menengah di atas 7 hingga 22 kW, cepat di atas 22 hingga 50 kW, dan sangat cepat di atas 50 kW.
Di sinilah banyak pemilik baru terkecoh. Pada pengisian AC, pengubah arus ada di dalam mobil, sehingga mobil berbatas AC 7 kW tetap mengisi 7 kW meski tiang SPKLU bertuliskan 22 kW. Kia Indonesia, contohnya, menyebut pengisian AC mobil listriknya maksimal 11 kW.
Masalahnya, kelas menengah justru paling banyak. PLN mencatat 4.655 SPKLU pada 2025, terdiri atas 633 ultra fast, 482 fast, 2.681 medium, dan 859 standar. Artinya, sekitar 58% unitnya berkelas medium, jadi cek jenis charger di aplikasi sebelum berangkat.
Pada DC, ceritanya berbeda karena listrik langsung masuk ke baterai. Batasnya lalu bergeser ke daya SPKLU, batas DC mobil, dan suhu baterai. Contohnya, BYD Atto 1 hanya menerima DC 30 kW untuk tipe Dynamic dan 40 kW untuk Premium, menurut BYD Indonesia.
Bahkan, angka di papan charger jarang tercapai sepanjang sesi. Lembar spesifikasi Hyundai (India) mencatat IONIQ 5 84 kWh naik dari 10% ke 80% dalam 18 menit di charger 350 kW. Menurut hitungan Kolabora, itu setara rata-rata sekitar 196 kW, jauh di bawah angka papan.
Mengapa di Atas 80 Persen Melambat
Menurut panduan pengisian Kia Indonesia, kecepatan fast charging turun signifikan setelah baterai mencapai sekitar 80%. Karena itu, banyak stasiun umum membatasi satu sesi fast charging sekitar 40 menit.
Secara teknis, pengisian berjalan dua tahap. Awalnya, sistem manajemen baterai mendorong arus tinggi yang stabil. Begitu tegangan sel mendekati batas aman, sistem menurunkan arus sedikit demi sedikit sambil menyeimbangkan sel dan menjaga suhu.
Akibatnya, 20% terakhir di DC bisa memakan waktu hampir sama dengan 60% sebelumnya. Di rumah, dampaknya lebih kecil karena daya 7 kW memang sudah rendah. Sebagai patokan simulasi, baterai 60 kWh dari 80% ke 100% di 7 kW masih butuh sekitar 1 jam 54 menit.
Jadi, kapan sebaiknya berhenti? Kia menyarankan pemilik menghindari pengisian di atas 80% dan pemakaian di bawah 20% demi umur baterai. Menurut kami, di SPKLU DC cabut saja di 80%, lalu isi penuh di rumah hanya sebelum perjalanan jauh.
Cara Merencanakan Isi Daya Tanpa Antre

Waktu tunggu paling mahal biasanya terjadi di perjalanan jauh. Oleh karena itu, Sobat Kolabora bisa memakai lima langkah berikut agar sesi di SPKLU tetap singkat.
- Catat dulu batas daya AC dan DC mobilmu dari buku manual, lalu masukkan ke kalkulator di atas.
- Berangkat dengan baterai penuh dari rumah, sebab pengisian semalam di rumah tidak membuang waktu perjalanan.
- Pilih SPKLU kelas fast atau ultra fast di jalur perjalanan, lalu cek ketersediaan unitnya di aplikasi sebelum tiba.
- Datangi SPKLU saat baterai sekitar 20%, lalu cabut di 80%, karena rentang inilah yang terisi paling cepat.
- Segera pindahkan mobil setelah selesai agar pengguna berikutnya tidak ikut menunggu.
Langkah memindai QR, membayar, dan mencabut konektor di mesin sudah kami urai di panduan cara pakai SPKLU mobil listrik.
Pada akhirnya, waktu charging bukan misteri: bagi kWh yang kamu butuhkan dengan daya terkecil di rantai pengisian, lalu sisakan waktu cadangan untuk tahap akhir pengisian.





